Di Indonesia banyak masyarakat menganggap madu asli atau murni itu jika memenuhi beberapa kondisi berikut
- Tidak ada semut yang datang
- Tidak tembus jika dituangkan pada kertas koran atau kertas tisu
- Dapat mematangkan telur
- Mudah terbakar
- Mudah meledak jika tertutup rapat
- dsb.
Uniknya belum terdapat suatu literatur yang mendukung hipotesis ini. Namun fenomena ini dapat dijelaskan hanya dengan 1 hal yaitu tingkat viskositas atau tingkat kekentalan madu tersebut. Tingkat viskositas ini dapat diketahui dengan menggunakan alat yang bernama refractometer. Logikanya semakin kental suatu madu maka semakin rendah kadar airnya, dengan rendahnya kadar air maka akan menyebabkan madu tidak mudah terjadi fermentasi. Efek fermentasi adalah menghasilkan alkohol yang tentu saja akan mengakibatkan tekanan pada kemasan madu bertutup rapat sehingga dapat terjadi ledakan apabila kemasan tidak memiliki ruang cukup. Alkohol pun dapat menjelaskan mengapa madu mudah terbakar atau mematangkan telur.
Kekentalan juga dapat menjelaskan tentang penembusan madu pada kertas koran atau kertas tisu, sedangkan pada kasus semut adalah karena semut mencium aroma manis dari madu. Semut mempunyai alat hisap lebih kecil daripada lebah sehingga pada madu yang semakin kental semut akan kesulitan menghisap cairan madu. Mungkin bisa dilakukan uji coba sederhana dengan meneteskan madu yg lebih encer dan madu kental mana yg akan dihabiskan oleh semut terlebih dahulu?
Tingkat viskositas pada madu dari Indonesia cukup rendah karena Indonesia merupakan negara tropis sehingga menghasilkan madu dengan tingkat viskositas rata-rata 20%. Hal ini masih sesuai dengan SNI 01-3545 tahun 1994 yaitu 18%-23%.
Ada pula mitos bahwa madu adalah palsu jika dimasukkan ke dalam kulkas membentuk kristal putih seperti gula. Pada madu murni kemungkinan tersebut masih dapat terjadi terutama pada madu karet dan madu kaliandra yang diproduksi oleh lebah impor (Apis mellifera) sedangkan pada madu kaliandra yg diproduksi oleh lebah lokal (Apis cerana) tidak terjaid pengkristalan.
Pengkristalan ini terjadi karena kadar dekstrosa lebih tinggi dari kadar levulosa. Proses ini sangat mudah dan cepat terjadi pada suhu antara 5-14 derajat celcius. Justru uniknya pada suhu di bawah 5 derajat celcius proses tersebut berhenti. Jadi untuk memastikan apakah kristal terebut gula pasir atau bukan nampaknya perlu proses lebih lanjut.
Bagaimanapun mitos tetap harus dicari logikanya terlebih dahulu bukan?
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.