Masuk akal kiranya jika BBM naik, hal tersebut karena naiknya harga minyak dunia yg telah mencapai US$137/barel. Namun bukankah sebagai salah satu negara pengekspor minyak dengan kenaikan harga minyak akan memberikan selisih yang mungkin saja mampu memberikan keuntungan bagi Indonesia. Alasan kenaikan BBM yang akan segera diterapkan adalah karena APBN akan jeblok karena negara menanggung subsidi sebesar Rp250T.
Kwik Kian Gie dalam Today’s Dialog di Metro TV memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional mengatakan bahwa sebenarnya kos produksi per liter BBM adalah sekitar Rp430 yang berarti dengan harga premium Rp4.500 maka pemerintah memperoleh surplus sebesar Rp4.070, yg menjadi pertanyaan kemanakah surplus tersebut.
Jusuf Kalla mengatakan bahwa surplus tersebut adalah untuk membiayai pengeluaran negara seperti membangun jalan dsb. Menurut Kwik Kian Gie dg hal tsb maka tidak seharusnya presiden mengatakan bahwa dengan tidak naiknya harga BBM akan menyebabkan jebloknya APBN.
Sudah bertahun-tahun, setiap kenaikan BBM selalu ada debat panjang yang mengatasnamakan kenaikan minyak dunia atau berbagai faktor eksternal lain seperti bahwa harga premium di negeri tetangga jauh lebih tinggi.
Pertanyaannya siapa sebenarnya yg dari dulu getol menyatakan bahwa subsidi BBM harus dihapus? mengapa selalu menyalahkan faktor eksternal? mengapa tidak melihat faktor internal?
Jawabannya adalah IMF dan Bank Dunia yang sedari dulu menginginkan subsidi BBM harus dihapus, nah mari melihat siapa yg dibelakang presiden, adakah mungkin antek-antek dari IMF dan Bank Dunia yang ikut andil dalam penetapan kenaikan harga BBM? Jawaban untuk pertanyaan berikutnya mungkin adalah karena “melahirkan” kambing hitam itu sangat mudah.
Mengapa tidak subsidi BBM tetap ada dengan meningkatkan keunggulan internal, seperti meningkatkan pendapatan negara dari pertanian, bukankah Indonesia negara agraris yang menyebabkan kayu dan batu bisa jadi tanaman, yang menyebabkan terjadinya penjajahan selama lebih dari 3 abad? Lagipula saat ini harga pangan dunia sedang meningkat, seharusnya negara agraris seperti Indonesia mampu memeroleh keuntungan besar.
Apakah bangsa Indonesia sedang dalam kondisi sebagai kacang yang lupa kulitnya?
2 tanggapan so far ↓
senopatiarthur // 23 Mei 2008 pada 13:42 |
Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di Social Bookmarking Indonesia http://www.infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://politik.infogue.com/
http://politik.infogue.com/kenaikan_bbm_2008
Tilth // 21 Juni 2008 pada 3:03 |
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Tilth!!